30
Mar
09

Mengapa harus menunggu sampai terpilih untuk bisa berbuat demi umat?

“tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu”

masih ingat peribahasa bijak itu? saya sih jadi ingat tulisan di keritik kentang
isinya tentang para artis yang sibuk memberi bantuan dan selalu diliput oleh media…

Bedanya, saat ini bukan para artis yang melakukannya. Tapi orang-orang yang baru-baru ini mendapat gelar “CALEG”.
Lihat saja siaran berita di TV. Dimana ada musibah, disitu ada caleg. Kampanye terselubung, tapi masih wajar menurutku… maksudnya, memang wajar klo banyak yang melakukannya…

Tapi apa yang saya lihat hari ini sungguh berbeda.
Ceritanya dimulai ketika saya sedang menikmati gado-gado yang rasanya mendadak jadi super lezat dah lapar banget, soalnya udah jam 4 sore tapi belum makan siang bersama beberapa teman di sela jadwal mengajar hari itu…
tiba-tiba seorang ibu datang dan mencari salah seorang pegawai LSM yang kantornya memang satu atap dengan tempat saya kerja part time itu…

Karena pegawai yang dimaksud tidak ada di tempat, maka seorang teman saya menghubunginya lewat telpon dan mempersilahkan ibu tersebut berbicara langsung dengan orang yang dicarinya itu…

dari percakapan itu sayapun mengerti duduk persoalannya. Suami ibu itu sedang dirawat di salah satu rumah sakit pemerintah karena penyakit prostat dan hipertensi. Karena ibu hanya terdaftar sebagai *peserta* (tidak tahu apa istilah tepatnya)JAMKESDA, maka ada beberapa obat yang harus dibeli.

Setahu saya, pemilik kartu JAMKESDA memang tidak seberuntung peserta JAMKESMAS, karena -setahu saya- peserta JAMKESDA hanya mendapatkan subsidi sebesar 40% dari pemerintah daerah, sedangkan bagi peserta JAMKESMAS seluruh biaya pengobatan termasuk rawat inap ditanggung 100% oleh pemerintah pusat. CMIIW.

nah, ibu itu mengatakan bahwa biaya yang dibutuhkan untuk membeli obat adalah Rp180.000,- (seratus delapan puluh ribu rupiah). Dia mendapatkan alamat LSM ini dari seorang kenalannya yang juga pernah mendapatkan bantuan biaya pengobatan dari LSM ini.

tapi ternyata LSM ini tidak bisa membantu ibu tersebut dengan alasan : “pegawai LSM tersebut hanya 3 orang dan ketiganya terdaftar sebagai Caleg. Sesuai peraturan, maka selama berstatus caleg, mereka tidak diperbolehkan menyalurkan dana.”

Saat itu, semuanya masih masuk akal menurut saya… tentu saja peraturan itu dimaksudkan untuk menghindari “fitnah” money politic

Akhirnya, setelah diberi uang transport oleh salah satu teman saya, ibu itu kami arahkan utk menghubungi Rumah Zakat. Semoga mereka bisa membantu…

Sejenak saya sudah melupakan kisah ibu tadi. Namun saya merasa ada yang “aneh” ketika dalam perjalanan pulang saya melihat hampir seluruh pohon, tiang listrik, pagar, tanah kosong dihiasai dengan gambar wajah-wajah tersenyum dengan kata-kata yang “indah”…
Peduli, Jujur, Amanah, Berjuang untuk Rakyat, dan masih banyak lagi…..

Bukankah tujuan mereka untuk menjadi Anggota Legislatif adalah agar bisa berbuat demi rakyat?

Haloooowww…. berapa biaya yang dikeluarkan untuk semua spanduk dan baliho itu? Tidakkah kalian melihat ada seorang ibu harus berurai air mata demi mencari pembeli obat untuk orang yang sangat dicintainya… yang jumlahnya tentu saja jauh lebih kecil dari uang yang kalian buang-buang demi kenarsisan itu…

Bagaimana dengan LSM tadi? saya melihatnya sebagai sesuatu yang SANGAT KONTRAS.

Mereka menjadi caleg karena ingin berbuat lebih baik untuk rakyat, tapi justru karena kepentingan menjadi caleg -yang tentu saja adalah kepentingan pribadi- itu justru membuatnya terhalang untuk berbuat bagi rakyat yang sudah jelas sangat membutuhkan…

Kembali teringat pada pertanyaan yang selalu saya ungkapkan akhir-akhir ini..
“Mengapa harus menunggu sampai terpilih untuk bisa berbuat demi umat?”

Lalu bagaimana dengan saya? Cuma bisa ngomong? Iya… dan itu sempat membuat saya benci pada diri saya sendiri. Mengapa saya tidak bisa membantu ibu itu? Karena uang di dompet saya hanya cukup untuk transport pulang ke rumah? Itu hanyalah alasan pembenaran…

Karena seharusnya saya bisa menelpon suami saya untuk minta uang. Dan saya benar-benar menyesal tidak melakukannya…
satu lagi, saya baru ingat, harusnya saya bisa mengambil uang lewat ATM yang jaraknya cuma beberapa meter… dan ini membuat saya menyesal dua kali lipat…
hilanglah satu kesempatan “mencari perhatian Allah SWT”
Semoga Allah memberi kesempatan lagi padaku….

Bagaimanapun, sekali lagi saya ingin bertanya pada para Caleg :

“Mengapa harus menunggu terpilih untuk bisa berbuat demi umat?”


3 Responses to “Mengapa harus menunggu sampai terpilih untuk bisa berbuat demi umat?”


  1. March 31, 2009 at 1:36 am

    selalu ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan yang tidak bisa kita raih yah…😦

  2. April 1, 2009 at 3:28 pm

    jadi ingat salah satu reality show paling baru di TV,
    judulnya “Kontrak Politik”
    🙂

  3. April 13, 2009 at 2:25 am

    yah… gimana lagi… emang seperti itu peraturannya…:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Me, My Self, and I

Orangnya pintar (protes=sirik), baik hati, rendah diri (baca:pendek), tidak sombong, kaya, punya penghasilan tapi tidak punya NPWP. Apa kata dunia???  

Udah dikunjungi

  • 67,925 tamu

Google page rank

Ama dimana-mana


%d bloggers like this: