30
Nov
07

penipuan, benarkah bagian dari bisnis ?

nanti deh postingnya…. aku lupa nyimpan draft tulisannya dimana….

 sori dori mori stroberi

[update]

akhirnya dapet nih tulisannya…

Udah sering banget deh denger orang yang lagi bisnis (baca:usaha), trus ditipu. Entah itu ditipu oleh pihak luar atau justru orang dalam perusahaan. Tapi yang paling menyakitkan memang kalo yang menipu itu adalah orang yang udah dipercaya, diharapkan bisa bersama-sama mengembangkan usaha, tapi dianya malah mau untung sendiri dengan cara apapun. Benci!!

Kadang saya mikir, apa berarti orang yang ditipu itu bodoh? Kayaknya nggak deh.

Kalau baru ketemu orang sekali, trus dimintain duit yang katanya akan dipake untuk modal usaha trus nanti kita akan mendapat 70% dari hasilnya yang melimpah ruah,lalu kita percaya dan akhirnya tertipu… itu yang namanya bodoh!

Kenyataannya, penipuan sering sekali dilakukan justru oleh “orang dalam” yang “dipercaya” dan “dekat” dengan sang korban. Kok bisa ya?

Kalo kata suami saya, itu sih karena orang Indonesia terlalu menjunjung tinggi asas kekeluargaan dan melupakan prosedur.
Kadang, kalo sama orang yang udah bekerja bersama kita sekian lama dan sudah seperti keluarga sendiri, kita mengesampingkan prosedur yang nampaknya kaku dengan alasan “kita percaya kok sama dia”. Padahal, kepercayaan saja nggak cukup, kita perlu mematuhi prosedur hingga akhirnya kita bisa profesional.

Misalnya terjadi pembayaran atas sesuatu, jangan ragu menghitung uang didepan orang yang membayar. Kalo ada kekurangan, kita bisa ngomong “Mungkin saya yang salah, tapi saya hitung ini kok kurang, coba deh kamu hitung juga” Jadinya kita sama-sama ngitung. Kita ngeliatin dia ngitung, dia ngeliatin kita ngitung.
Kan jauh lebih baik daripada kita ngedumel karena uangnya kurang tapi nggak berani nagih karena nggak punya bukti bahwa dia memang bayarnya kurang.

Tapi kita kan suka “nggak enak hati”. Masak sama sahabat sendiri kita harus pake ‘Surat Utang-Piutang’, misalnya? Ya harus!!! Itu prosedurnya. Bilang saja: “Saya percaya sama kamu, tapi ini prosedurnya biar kita sama-sama enak”

Balik lagi ke soal penipuan, ironisnya justru terjadi karena “terlalu percaya”. Logikanya, kalo kita saling percaya, maka usaha kita seharusnya lancar. Tapi “terlalu percaya” bisa membuat mata kita tertutup untuk melihat kenyataan. Biasanya kita malah mikir ” Masa sih dia berbuat seperti itu pada saya? Kayaknya nggak mungkin, deh. Kita kan sudah lama bekerja sama” Pliiss deh, hati orang siapa yang tau gitu loh…

Begitulah, sesuatu yang baik sekalipun kalau berlebihan bisa berdampak negatif.


2 Responses to “penipuan, benarkah bagian dari bisnis ?”


  1. November 30, 2007 at 7:02 am

    Ayo diinget2 lagi…😀

  2. 2 muis99
    December 14, 2008 at 2:12 pm

    Memang klo soal uang saudara pun bisa jadi musuh mbak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Me, My Self, and I

Orangnya pintar (protes=sirik), baik hati, rendah diri (baca:pendek), tidak sombong, kaya, punya penghasilan tapi tidak punya NPWP. Apa kata dunia???  

Udah dikunjungi

  • 67,925 tamu

Google page rank

Ama dimana-mana


%d bloggers like this: