27
Oct
07

suatu hari di angkot

Lebih dari 10 tahun yang lalu, saya masih kelas 3 di SMP Neg.1 Ternate. Saat itu di kota Ternate dilakukan pemadaman listrik secara bergiliran. Hal ini tentu saja mempengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk saya.Pagi-pagi saya sudah mempersiapkan perlengkapan sekolah walaupun saya masuknya siang hari. Tas, buku, alat tulis, dan uang jajan semuanya saya siapkan. Hari itu seharusnya saya memakai seragam pramuka tapi Oopss… ternyata baju saya belum disetrika. Bergegas saya mengambil setrika, colok ke listrik.. lho kok? Lampu indikatornya nggak nyala. Saya putar-putar pengatur suhunya, tetap nggak nyala. Saya tekan saklar lampu kamar, lampunya juga nggak nyala. OMG, hari ini giliran daerah tempat tinggal saya yang listriknya padam. Apa yang harus saya lakukan?Kemudian saya membawa setrika itu ke samping rumah, saya jemur. Dengan gelisah, saya melihat kiri kanan, takut kalo ada yang lihat perbuatan konyol saya itu. Namanya juga usaha…
Kira-kira 30 menit setrikanya saya jemur, panas sih… tapi tetap nggak ngaruh di baju (ya iyalah…). Akhirnya saya ke sekolah memakai seragam putih biru yang pastinya udah nggak fresh lagi. Apa boleh buat.

50 meter dari sekolah, saya membuka tas, mencari uang untuk bayar angkot. Lho..? uangnya mana? Dengan panik, saya terus mencari… tetap nggak ada. Padahal sekolah udah di depan mata.

Seorang bapak yang duduk didepan saya bertanya :

“Nona, ada apa?” (Nona adalah panggilan untuk anak perempuan di daerah ini)

“Lupa bawa uang” jawabku. Saya baru ingat kalo uangnya sudah saya masukkan ke kantong rok pramuka yang tidak jadi saya pakai.

”Turun sudah, nanti kita yang bayar oto” (Turun aja, nanti saya yang bayar angkotnya)

“Terima kasih” jawabku.

Lalu kemudian, saya meminjam uang di teman untuk ongkos pulang.
3 tahun kemudian, di suatu siang saya pulang dari sekolah (SMK TELKOM Sandhy Putra 2 Makassar). Macetnya luar biasa. Entah ada apa. Akhirnya angkot yang saya tumpangi harus mengambil jalan memutar. Di suatu persimpangan, dua siswa SMP memutuskan untuk turun. Saya tahu mereka harus nyambung angkot lagi, karena tadi angkot ini tidak jadi lewat depan sekolah mereka. Wajah mereka memang terlihat agak cemas, mungkin takut telat.
Tiba-tiba seorang bapak berkata :

“Nanti saya yang bayar, nak”

Dua siswa itu terlihat bingung. Lalu kemudian berujar “Terima kasih”
Seakan mengerti keheranan penumpang yang lain, bapak tadi pun berkata

“Mungkin uang mereka pas-pasan. Kalo harus nyambung lagi berarti mereka harus bayar dua kali.”

Bapak yang baik, kataku dalam hati.
Beberapa tahun kemudian,

Saya sedang naik angkot ke rumah mertua.

“Kiri, pak!” kata seorang wanita. Dari seragamnya saya tahu dia adalah karyawati Ramayana.

Lalu wanita itu merogoh saku bajunya. Lalu saku roknya. Panik.

Spontan saya berkata padanya “Nanti saya yang bayar”

“Terima kasih” ujarnya.
Saya tidak bermaksud menyombongkan diri dengan menceritakan “kebaikan” saya. Yang saya tahu, ketika saya melihat wajah cemas wanita tadi, saya ingat kejadian 10 tahun yang lalu itu. Mungkin begitulah wajah saya ketika itu.
Dari pengalaman naik angkot ini, saya mendapat pelajaran berharga. Bahwa jika seseorang berbuat baik pada kita, itu berarti kita diajarkan untuk melakukan hal yang sama pada orang lain. Sebaliknya, jika seseorang menyakiti kita, berarti kita diajarkan untuk TIDAK melakukan hal yang sama.
Mungkin ini juga adalah cara saya untuk “Pay It Forward” atas jasa bapak yang sudah membayarkan angkot saya waktu itu. Sekali lagi terima kasih, Pak!


0 Responses to “suatu hari di angkot”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Me, My Self, and I

Orangnya pintar (protes=sirik), baik hati, rendah diri (baca:pendek), tidak sombong, kaya, punya penghasilan tapi tidak punya NPWP. Apa kata dunia???  

Udah dikunjungi

  • 67,925 tamu

Google page rank

Ama dimana-mana


%d bloggers like this: