Archive for the 'bisnis' Category

08
May
08

ber-internet dengan sehat yuuuuk….!

Alhamdulillah…..

Walau dengan dana ngos-ngosan (minjem istilah Pak Rahman Arge), akhirnya warnet kecil-kecilan ini resmi dibuka (sebenarnya udah dua minggu, tapi baru sempat posting sekarang).

Karena dananya ngos-ngosan dan menguras setiap sen tabungan, ya benar-benar warnet kecil-kecilan. Komputernya cuma ada 7, itupun sebagian adalah komputer lawas yang “disulap” dengan teknik LTSP sehingga kecepatannya menyamai P4.

Bukannya kurang serius berbisnis, tapi niat awalnya adalah “ikut serta mencerdaskan anak bangsa”, jadi daripada nunggu sampai dananya banyak (entah kapan itu….), mending dimulai dari sekarang.

So, mulailah kami menawarkan program “belajar internet gratis”. Awalnya agak pesimis, soalnya saya pikir jaman sekarang siapa sih yang tidak tahu internet? Tak disangka (namun diharapkan), ternyata masih banyak… rata-rata anak SMP, mahasiswa juga ada ding….

Masalah lain timbul…. para pelajar itu ternyata sukanya chatting. Klo sekedar chatting sih gak masalah, yang masalah adalah di chat room mereka dapat link-link ke situs asusila. Dasar anak-anak, udah tau itu situs gak bener, bukannya di close malah dipelototin…. GAWAT !!! Mau jadi apa bangsa ini.

Diskusi serius pun dimulai. Saya dan suami sejak awal memang sudah sepakat bahwa semua yang kami lakukan haruslah bernilai ibadah, jadi apapun itu harus diawali dengan niat yang baik, dijalankan dengan baik, dan insya Allah akan memberi hasil yang baik.

Kiri kanan nyari ilmu memblokir situs “aneh”, dicoba…. hmmm masih gak efektif.

Mau ngilangin sekat pembatas, nanti orang malah nggak nyaman.

Jalan terakhir, posisi komputer dibalik. Yang tadinya monitor menghadap ke dinding (user membelakangi tembok), sekarang dibalik sehingga monitornya membelakangi tembok.

Alhasil, anak-anak muda yang tadinya rajin datang ke warnet, begitu melihat posisi komputernya di balik, malah gak jadi masuk … tanya kenapa..????

Eh, tapi ada juga yang tetap nekat buka-buka situs “gila” itu. Pas ditegur, dianya malah ngeles.. alasannya sih cuma mau ngetes apa warnet kami sudah melakukan pemblokiran atau tidak. Ngetes kok malah dipelototin trus di scroll bolak-balik, mas???  Itu aja kalo nggak ditegur, mungkin malah nggak di close.
Dasar !!!

Secara finansial (cie…) memang sangat berpengaruh. Turun drastis. Tapi buat apa banyak duit kalo “haram”??
Pokoknya kami harus tetap konsisten. Ini pasti adalah ujian dari Allah, sejauh mana kami bisa menahan godaan “harta”. Dan kami harus LULUS !!!

Alhamdulillah, ternyata Allah meridhoi usaha kami. Perlahan penghasilan kami pun meningkat. Yang kami khawatirkan bahwa orang akan merasa terganggu dengan posisi komputer yang tidak lazim ini, ternyata tidak terbukti. Malah, kayaknya kami berhasil membangun citra yang baik.

So, dukung kami dalam mengkampanyekan “Internet Sehat” ini (dulu sih pernah ada program kayak gini, tapi kok nggak kedengaran lagi ya? Ato saya yang kuper?)

30
Nov
07

penipuan, benarkah bagian dari bisnis ?

nanti deh postingnya…. aku lupa nyimpan draft tulisannya dimana….

 sori dori mori stroberi

[update]

akhirnya dapet nih tulisannya…

Udah sering banget deh denger orang yang lagi bisnis (baca:usaha), trus ditipu. Entah itu ditipu oleh pihak luar atau justru orang dalam perusahaan. Tapi yang paling menyakitkan memang kalo yang menipu itu adalah orang yang udah dipercaya, diharapkan bisa bersama-sama mengembangkan usaha, tapi dianya malah mau untung sendiri dengan cara apapun. Benci!!

Kadang saya mikir, apa berarti orang yang ditipu itu bodoh? Kayaknya nggak deh.

Kalau baru ketemu orang sekali, trus dimintain duit yang katanya akan dipake untuk modal usaha trus nanti kita akan mendapat 70% dari hasilnya yang melimpah ruah,lalu kita percaya dan akhirnya tertipu… itu yang namanya bodoh!

Kenyataannya, penipuan sering sekali dilakukan justru oleh “orang dalam” yang “dipercaya” dan “dekat” dengan sang korban. Kok bisa ya?

Kalo kata suami saya, itu sih karena orang Indonesia terlalu menjunjung tinggi asas kekeluargaan dan melupakan prosedur.
Kadang, kalo sama orang yang udah bekerja bersama kita sekian lama dan sudah seperti keluarga sendiri, kita mengesampingkan prosedur yang nampaknya kaku dengan alasan “kita percaya kok sama dia”. Padahal, kepercayaan saja nggak cukup, kita perlu mematuhi prosedur hingga akhirnya kita bisa profesional.

Misalnya terjadi pembayaran atas sesuatu, jangan ragu menghitung uang didepan orang yang membayar. Kalo ada kekurangan, kita bisa ngomong “Mungkin saya yang salah, tapi saya hitung ini kok kurang, coba deh kamu hitung juga” Jadinya kita sama-sama ngitung. Kita ngeliatin dia ngitung, dia ngeliatin kita ngitung.
Kan jauh lebih baik daripada kita ngedumel karena uangnya kurang tapi nggak berani nagih karena nggak punya bukti bahwa dia memang bayarnya kurang.

Tapi kita kan suka “nggak enak hati”. Masak sama sahabat sendiri kita harus pake ‘Surat Utang-Piutang’, misalnya? Ya harus!!! Itu prosedurnya. Bilang saja: “Saya percaya sama kamu, tapi ini prosedurnya biar kita sama-sama enak”

Balik lagi ke soal penipuan, ironisnya justru terjadi karena “terlalu percaya”. Logikanya, kalo kita saling percaya, maka usaha kita seharusnya lancar. Tapi “terlalu percaya” bisa membuat mata kita tertutup untuk melihat kenyataan. Biasanya kita malah mikir ” Masa sih dia berbuat seperti itu pada saya? Kayaknya nggak mungkin, deh. Kita kan sudah lama bekerja sama” Pliiss deh, hati orang siapa yang tau gitu loh…

Begitulah, sesuatu yang baik sekalipun kalau berlebihan bisa berdampak negatif.

16
Nov
07

Launching nih

Ehem…ehem…

Launching nih….

Software House kami AITI Software House. Ayo…ayo… siapa yang mau pesen program.. bulan promosi, discountnya 50% lho….




Me, My Self, and I

Orangnya pintar (protes=sirik), baik hati, rendah diri (baca:pendek), tidak sombong, kaya, punya penghasilan tapi tidak punya NPWP. Apa kata dunia???  

Udah dikunjungi

  • 21,742 tamu

Google page rank

Ama dimana-mana

Kategori